Kuningan,-Isu kesiapan sarana penanggulangan kebakaran di Kabupaten Kuningan kembali menjadi sorotan tajam. Betapa tidak, dalam satu hari saja, Rabu (3/6/2026), warga dua kali dikejutkan peristiwa kebakaran yang melanda wilayah berbeda. Namun, di balik upaya keras petugas Damkar di lapangan, warga mempertanyakan kinerja dan perhatian pemerintah daerah.
Dari 6 unit armada kendaraan pemadam kebakaran hanya 3 unit saja yang layak operasional. Sementara 3 unit lainnya dalam kondisi rusak.
Kepala UPT Damkar Satpol PP Kuningan Abdri Arga Kusumah, membenarkan dari 6 armada Damkar yang berfungsi hanya 3 unit. Sedang 3 unit lainnya dalam kondisi rusak parah, terangnya Rabu (3/6/2026).
Fakta ini seolah menjadi tamparan keras di tengah berbagai laporan dan rencana kerja yang selama ini disampaikan ke publik. Di atas kertas, Kuningan memiliki jaminan perlindungan bagi warganya. Kenyataan, saat api mulai membesar dan asap mengepul, separuh kekuatan yang diandalkan justru “tidak bisa bergerak”.
Timbul pertanyaan dikalangan masyarakat Anggaran dana pemeliharaan dan perawatan kendaraan dinas yang seharusnya menjadi nyawa dalam penanganan darurat, ternyata tidak ada alias nihil ?
Seperti diketahui ketika kebakaran terjadi tidak ada waktu untuk menunggu, tidak ada ruang untuk alasan teknis. Namun, saat terjadi kebakaran di dua lokasi praktis petugas Damkar tak bisa berbuat banyak. Terkendala kendaraan Damkar hingga mengaburkan harapan warga. Terpantau kebakaran pertama terjadi, petugas harus berjuang ekstra keras dengan keterbatasan alat. Belum hilang rasa cemas, kebakaran kedua terjadi di lokasi berbeda, dan praktis petugas harus kembali lagi ke lokasi kebakaran kedua
Apakah ini yang disebut pelayanan maksimal? Apakah ini bentuk tanggung jawab negara melindungi warganya? Rasanya ironis mendengar berbagai program pembangunan dan kegiatan seremonial yang digembar-gemborkan, namun urusan mendasar seperti kelayakan alat pemadam kebakaran saja belum tuntas diselesaikan.
Warga berhak bertanya, apakah pemerintah baru akan bergerak dan membenahi armada ini jika nanti ada korban jiwa yang berjatuhan atau kerugian harta benda yang nilainya jauh lebih besar? Apakah separuh armada yang rusak ini akan menjadi alasan ketika nanti ada rumah warga yang ludes terbakar karena keterlambatan penanganan?
Kita tahu betul medan Kuningan beragam, akses jalan ada yang sempit dan menanjak, butuh ketangkasan dan kecepatan. Bagaimana mungkin petugas diharapkan bekerja maksimal jika alat yang diandalkan saja kondisinya timpang?
Dua kali kebakaran dalam satu hari, dan dua kali pula kita diingatkan akan kenyataan pahit ini. Masyarakat berharap, sorotan ini tidak hanya lewat begitu saja. Jangan sampai Damkar Kuningan hanya menjadi “pajangan” di atas kertas, sementara warga yang menjadi korban harus menanggung risiko akibat kelalaian pemeliharaan fasilitas umum.
Untuk memberi pelayanan prima kepada masyarakat, pemerintah diharapkan serius memperbaiki fasilitas kendaraan Damkar yang rusak. Dengan kondisi yang layak ketika ada peristiwa kebakarana, seluruh armada siap berangkat. Jangan biarkan nyawa dan harta benda warga Kuningan menjadi taruhan atas kelalaian perawatan kendaraan dinas.
(H. Aboy)

