Kuningan,-Nuansa Kekeluargaan terasa kental saat Gerakan KITA menggelar Wisata Religi Bersama, Sabtu-Minggu 20-21/6/2026.65 peserta ikut dalam perjalanan ziarah yang tak hanya napak tilas, tapi juga jadi ruang mempererat silaturahmi menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.
Bus berangkat dari halaman Masjid Syiarul Islam Kuningan usai sholat Isya. Sebelum meninggalkan Kuningan, rombongan singgah dulu ke Makam Pangeran Arya Kamuning di kawasan Makam Gede.
Selama perjalanan, peserta mengunjungi 5 lokasi bersejarah:
1. Makam Pangeran Arya Kamuning – Kuningan, pendiri Cirebon Girang
2. Makam Sunan Gunung Jati– Cirebon, salah satu Wali Songo
3. Makam Al Habib bin Abdullah bin Thalib Al Aththos – Pekalongan
4. Kompleks Makam Sapuro – Pekalongan, area pemakaman ulama & bangsawan
5. Makam Syekh Maulana Samsuddin – Pemalang, penyebar Islam di Pantura.

Di antara perjalanan panjang, peserta tak hanya diam. Mereka berbagi cerita, pengalaman hidup, dan pelajaran yang membuat rasa persaudaraan makin kuat.
Ridho Fauji, koordinator kegiatan sekaligus pengurus Gerakan KITA, menyebut wisata religi ini sengaja dibuka untuk umum.
“Selain mempererat silaturahmi, ini ikhtiar kami menyambut Tahun Baru Islam 1448 H. Kami ingin ajak masyarakat mulai tahun baru dengan refleksi, perkuat hubungan sosial, dan mendekatkan diri ke Allah SWT,” kata Ridho.
Ia menambahkan, wisata religi punya nilai lebih dari sekadar liburan. “Di sini kita mengenang perjuangan ulama menyebarkan Islam. Sekaligus belajar pengabdian, ketekunan, dan kepedulian sosial dari jejak mereka,” jelasnya.
Kegiatan ini masuk program rutin bidang keagamaan Gerakan KITA. Selain ziarah, komunitas ini rutin menggelar “Ngopi Perkara Iman” atau NGOPI sebagai ruang diskusi keislaman dan penguatan kebersamaan.
“Agama mengajarkan dua hal: hubungan baik dengan Allah dan hubungan baik dengan sesama. Kami harap kegiatan ini jadi tempat menimba ilmu sekaligus belajar bermasyarakat,” tegas Ridho.
Di era modern yang sering memisahkan orang, perjalanan berjam-jam di bus justru jadi ruang cair. Peserta dari berbagai latar belakang makin akrab karena obrolan dan kebersamaan.
Ke depan, Gerakan KITA ingin kegiatan ini lebih inklusif dan melibatkan komunitas lain.
“Silaturahmi yang luas akan melahirkan kebaikan dan ilmu yang luas juga. Kami ingin bangun persaudaraan kuat dan memberi manfaat sebesar-besarnya untuk masyarakat Kuningan,” pungkas Ridho.
Bagi Gerakan KITA, perjalanan Kuningan-Pemalang bukan soal jarak. Ini ikhtiar merawat ukhuwah, meneladani ulama, dan mengisi pergantian tahun Hijriah dengan semangat hijrah menuju pribadi lebih baik.
(H. Aboy)

