Kuningan,– Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-50 Tingkat Kabupaten Kuningan secara resmi dibuka di Alun-alun Desa Sindangagung, Kecamatan Sindangagung, Selasa (21/7/2026). Perhelatan yang telah memasuki usia setengah abad ini menjadi momentum istimewa untuk memperkuat pembinaan generasi Qur’ani sekaligus membangun karakter masyarakat yang religius sejalan dengan visi Kabupaten Kuningan Melesat.
Ketua Panitia Pelaksana, Emup Muplihudin, S.Pd., menyampaikan MTQ bukan sekadar ajang perlombaan semata, melainkan wahana syiar Islam, dakwah, sekaligus sarana evaluasi menyeluruh atas pembinaan Al-Qur’an yang telah dilakukan pemerintah, Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ), pondok pesantren, lembaga pendidikan Al-Qur’an, hingga seluruh elemen masyarakat.
Mengusung tema “Al-Qur’an sebagai Inspirasi Moral Menuntun Peran dan Harmoni Umat Menuju Kuningan Melesat”, MTQ ke-50 diharapkan menjadi sumber inspirasi nyata dalam membangun moral, etika, karakter, serta integritas masyarakat.
“Berjalannya MTQ hingga tahun ke-50 ini adalah bukti nyata komitmen Pemkab Kuningan bersama Kementerian Agama, LPTQ, para ulama, guru ngaji, pondok pesantren, dan seluruh masyarakat dalam menjaga syiar Islam serta melahirkan generasi Qur’ani yang tangguh,” ujar Emup.
Kegiatan berlangsung selama dua hari dengan pusat kegiatan di Kecamatan Sindangagung. Upacara pembukaan dan penutupan dipusatkan di Alun-alun Desa Sindangagung, sedangkan perlombaan tersebar di 20 lokasi yang meliputi masjid, pondok pesantren, dan sekolah. Sebanyak 621 orang terlibat aktif, terdiri dari 493 peserta dan 128 ofisial yang mewakili 32 kafilah kecamatan, berkompetisi dalam lima cabang utama: Seni Baca Al-Qur’an, Hafalan Al-Qur’an, Syarhil Qur’an, Kaligrafi Al-Qur’an, serta Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an.
Sementara itu, Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., menegaskan Al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk dibaca, melainkan harus dihidupkan dan diterapkan dalam perilaku sehari-hari.
“Ketika Al-Qur’an hanya berhenti di bibir, ia menjadi bacaan yang indah. Ketika meresap ke dalam hati, ia menjadi cahaya kehidupan. Dan ketika diwujudkan dalam perilaku, ia akan menjadi peradaban yang membawa kemaslahatan,” tegas Bupati Dian.
Menurutnya, MTQ bukan sekadar mencari qari, hafiz, atau kaligrafer terbaik, melainkan ikhtiar besar menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam sendi kehidupan bermasyarakat. Ia mengajak seluruh peserta menjadikan ajang ini sarana belajar dan mempererat silaturahmi, bukan semata-mata mengejar gelar juara.
“Kemenangan yang sesungguhnya bukan hanya berdiri di podium juara, tetapi mampu menghadirkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya.
Kepada dewan hakim, Bupati berpesan agar senantiasa memegang prinsip OJA—Objektif, Jujur, dan Adil—sehingga seluruh proses penilaian berlangsung profesional, proporsional, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Lebih lanjut, Bupati menekankan makna mendalam peringatan 50 tahun penyelenggaraan MTQ sebagai bukti konsistensi masyarakat Kuningan menjaga nilai-nilai keagamaan.
“Pembangunan tidak cukup hanya membangun jalan dan jembatan, tetapi juga harus membangun jiwa masyarakat agar berjalan seimbang dan berkelanjutan,” pungkasnya.
(H. Aboy)

