Waspada Silent Call! Diskominfo Kuningan: Jangan Angkat dan Telepon Balik Nomor Tak Dikenal

Kuningan,- Fenomena silent call atau panggilan hening dari nomor tak dikenal kemungkinan bisa saja terjadi, yang bisa menyebabkan aksi penipuan. Memgantipasi hal yang tidak diinginkan, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Kuningan, Ucu Suryana, melalui Kepala Bidang Komunikasi dan Informasi Publik (KIP) Nana Suhendra, menuturkan modus ini merupakan penipuan siber terbaru.

Nana menjelaskan, _silent call_ adalah bagian dari _social engineering_ atau rekayasa sosial yang tengah meningkat. Panggilan biasanya tidak bersuara atau langsung terputus setelah beberapa detik.

Tujuannya beragam, mulai dari mengecek apakah nomor aktif, memancing korban untuk melakukan _call back_, hingga mengumpulkan data untuk serangan lanjutan.

“Risikonya tidak sepele. Nomor korban bisa masuk daftar target penipuan, diarahkan ke skema OTP dan _phishing_, hingga tersambung ke nomor premium berbiaya tinggi jika telepon balik,” tegas Nana, Selasa (21/4/2026).

Diskominfo Kuningan mengimbau masyarakat jika terjadi hal serupa agar mengabaikan panggilan, jangan angkat, jangan telepon balik, langsung blokir.

“Panggilan tersebut merupakan tahapan awal dari penipuan berbasis telepon. Tindakan _call back_ adalah yang paling sering menjebak, karena banyak _scam_ pakai teknik _missed call bait_,” ungkapnya.

Jika penelepon memang penting, biasanya akan menghubungi kembali atau mengirim pesan singkat. Waspadai juga nomor luar negeri yang mencurigakan.

Nana menyarankan masyarakat memanfaatkan teknologi perlindungan tambahan:

1. *Gunakan aplikasi pihak ketiga* untuk identifikasi nomor spam, blokir otomatis, dan label panggilan mencurigakan.

2. *Aktifkan fitur bawaan ponsel* seperti _Silence Unknown Callers_ atau _Block Unknown Numbers_.

3. *Jika terlanjur angkat, jangan jawab “ya”*. Suara tersebut bisa direkam dan disalahgunakan untuk manipulasi data pribadi seperti OTP, NIK, atau informasi perbankan.

Ia juga menekankan pentingnya edukasi keluarga, terutama orang tua dan anak-anak yang rentan menjadi sasaran.

“Jangan panik dan tidak mudah percaya terhadap ancaman melalui telepon. Tingkatkan literasi digital, dan peran operator juga penting untuk memfilter pola panggilan mencurigakan,” katanya.

 

(H.Aboy)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *