BOBOKO Kuningan Ternyata Sudah Ada Sejak 2019, Nicky Edward Ungkap Sejarah Bobotoh Kolot

Kuningan,-Komunitas Bobotoh Kolot (BOBOKO) Kuningan ternyata sudah ada sejak 2019, jauh sebelum ramai pendaftaran anggota baru saat ini. Hal itu diungkapkan mantan Ketua Viking Distrik Kuningan (VDK) 2002–2016, Nicky Nugraha Edward, Jumat (8/5/2026).

 

Nicky menyebut, BOBOKO awalnya bukan organisasi resmi, melainkan wadah silaturahmi Bobotoh Persib berusia 35 tahun ke atas. “Tujuan awalnya mah kumpul lagi sama teman-teman, tetap jadi Bobotoh meski sudah kolot,” ujarnya.

 

Ide BOBOKO Kuningan lahir setelah Nicky lengser dari VDK dan merantau ke Jakarta-Bandung. Saat kumpul dengan rekan suporter senior, muncul gagasan bikin wadah baru.

 

“Teman-teman minta bikin kumpulan suporter Persib. Saya langsung ngomong, geus Bobotoh Kolot wae,” kata Nicky.

 

Istilah Bobotoh Kolot pertama kali ia kenal tahun 2005–2006 saat menghadiri pertemuan Viking Persib Club (VPC) Pusat di Bandung. Seorang perempuan yang disapa Bunda memperkenalkan kelompok Bobotoh senior dan menyematkan pin BOBOKO ke jaketnya.

 

“Pesannya sederhana, jangan berhenti jadi Bobotoh walaupun sudah tua,” tutur Nicky.

 

Tahun 2019, BOBOKO Kuningan mulai diperkenalkan. Nicky bersama lima rekannya membuat atribut pertama, termasuk kaos bertuliskan BOBOKO Kuningan. Logo dimodifikasi dari BOBOKO Bandung dengan tambahan identitas Kuningan dan dua bintang Persib.

 

Sejumlah senior VDK seperti Nana Molen, Asep Kede, almarhum Hendra, Ade Kobra, hingga Henda Catuy ikut membesarkan komunitas. Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar kini jadi Dewan Pembina, dan Kang Gugum penasehat VDK jadi Dewan Penasehat BOBOKO.

 

Nicky menegaskan, BOBOKO tidak dibentuk dengan struktur kaku. “Intinya kami pakai pola kekeluargaan, bukan organisatoris,” bebernya. Rencana legalitas sempat disusun, tapi tertunda karena Nicky mengalami stroke ringan November 2025.

 

Ia menyambut positif munculnya kembali BOBOKO Kuningan. “Yang penting jaga nama baik Bobotoh dan jangan bikin masalah. Persib mah tetap milik bersama. Bobotoh juga harus tetap satu keluarga,” pungkasnya.

 

(H. Aboy)

 

 

 

 

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *